Kamis, 27 Februari 2020
Selasa, 31 Desember 2019
Rabu, 25 Desember 2019
LISTRIK
Hayo, siapa yang suka
mainan lampu? Anak zaman sekarang, kalo udah ngomongin lampu hias, pasti
langsung kebayang jenis lampu yang satu ini deh: lampu tumblr. Entah kenapa
juga dinamain kayak gitu. Apakah ada hubungannya sama nama media sosial yang
udah diblokir itu?
Selain bisa ngebuat
kamar kita jadi hits jadi kayak kamar-kamar di Instagram, bersyukurlah karena
lampu tersebut disusun dengan rangkaian seri. Hah? Maksudnya apa tuh rangkaian seri?
Begini. Bandingkan
lampu-lampu tersebut dengan instalasi lampu yang ada di rumah kamu. Kalau kamu
perhatikan, biasanya, instalasi lampu di rumah menerapkan sistem satu saklar
untuk satu lampu. Artinya, lampu-lampu di rumah kamu disusun menggunakan rangkaian
paralel.
Sekarang bayangkan
kalau kamu harus mematikan/menyalakan lampu tumblr semuanya satu per satu.
Bisa-bisa gempor tangan kita. Maka dari itu, kita perlu tahu perbedaan
rangkaian seri dan paralel.
Rangkaian seri
merupakan rangkaian listrik yang hambatannya
disusun secara
bersebelahan/sejajar. Contohnya, rangkaian pada gambar berikut:
Pada rangkaian seri,
kuat arus (I) akan mengalir dari sumber energi (baterai) yang ada dari satu
hambatan ke hambatan lain melewati satu kabel. Perhatikan, deh, gambar di atas.
Lalu, bayangkan ada aliran listrik yang mengalir mulai dari baterai, menuju
hambatan/resistor 1, ke hambatan 2, lalu berputar dan kembali ke baterai. Iya,
anggap aja aliran listrik ini kayak aliran air gitu.
Setelah
membayangkannya, kamu pasti jadi sadar kalau untuk arus listrik yang melewati
hambatan 1, nilainya akan sama besar dengan arus yang melewati hambatan 2.
Kok gitu?
Ya, kan, alirannya
nggak mungkin ke mana-mana lagi.
Nah, itu berarti, kuat
arus total sama dengan kuat arus yang ada di hambatan 1, maupun hambatan 2.
Secara matematis dapat ditulis menjadi:
Itot =
I1 = I2 =
I…
Di sisi lain, tegangan
yang mengalir di hambatan 1, tidak sama dengan yang ada di hambatan 2. Tetapi,
apabila seluruh
tegangan yang ada di hambatan pada rangkaian itu dijumlahkan, hasilnya akan
sama dengan tegangan yang ada di sumber. Atau dengan kata lain;
Vtot =
V1 + V2 +
V…
Sehingga, hambatan totalnya
sama dengan jumlah dari seluruh hambatan yang ada di rangkaian itu. Ingat, ya,
maksud dari tanda titik-titik (...) di rumus itu untuk menandakan kalau ada
resistor lain. Jadi, kalau resistor/hambatannya lebih dari 2, tinggal
dilanjutin aja.
Rtot =
R1 + R2 +
R…
Rangkaian paralel
adalah rangkaian listrik yang hambatannya
disusun secara bertingkat/bercabang. Perhatikan gambar
berikut:
Nah, kelihatan
nggak bedanya dengan rangkaian seri? Sekarang, bayangkan ada aliran
listrik yang berjalan dari baterai, berjalan ke arah ke arah bawah menuju
hambatan 1. Sesaat dia berada di persimpangan, si aliran listrik akan
"memecah". Ada yang masuk ke resistor 1, ada juga yang berjalan ke
resistor 2. Itu artinya, kuat arus di kedua hambatan itu akan berbeda.
Ya, karena terdapat
“percabangan”, kuat
arus listrik yang diterima oleh hambatan 1 dan hambatan 2 tidak akan sama. Alhasil,
kuat arus sumber energinya akan sama dengan jumlah dari seluruh kuat arus semua
hambatan. Oleh karena itu, kita dapat menuliskannya menjadi:
Itot =
I1 + I2 +
I…
Di sisi lain, tegangan
yang ada pada hambatan 1 dan hambatan 2 akan bernilai sama besar. Maka, kita
dapat menuliskannya menjadi:
Vtot =
V1 = V2 =
V…
Lalu, bagaimana cara
kita menghitung hambatan listrik untuk
rangkaian paralel? Kalau kamu perhatikan, konsep antara seri dan paralel tadi
terbalik. Maka, cara mencari hambatannya adalah sebagai berikut:
1/ R total = 1 / R1 + 1 / R2 + ...
Berikut perbedaan rangkaian seri dan paralel,
Setelah mengetahui
rumus-rumus yang ada pada rangkaian seri dan paralel, sekarang kita coba ulas
yuk. Kira-kira apa ya perbedaan kedua rangkaian listrik ini? Lalu, apa juga
keuntungan dan kerugian jika kita menggunakan rangkaian listrik tersebut.
Secara penggunaan,
kedua jenis rangkaian ini jelas berbeda. Pada rangkaian seri, karena
hambatannya disusun bersebelahan, artinya, apabila satu hambatan tersebut mati,
maka hambatan lainnya juga akan ikut mati. Kamu pasti pernah tahu lampu LED
yang biasa digantung dijadiin hiasan itu kan?
Dengan menggunakan
rangkaian seri, kita dengan memudah mematikan seluruh lampu dengan satu
pencetan. Bayangkan kalau kita harus matiin semuanya satu per satu. Bisa-bisa
kita ikut mati.
Contoh lampu
rangkaian seri (sumber: giphy.com)
Di sisi lain, rangkaian
paralel bisa kita temukan di instalasi lampu rumah kita sendiri. Dengan
memasang hambatan pada kabel yang bertingkat/cabang seperti di rangkaian
paralel, kita bisa memisahkan saklar untuk masing-masing lampu.
Coba kalau lampu di
rumah kamu semuanya menggunakan rangkaian seri. Sekali pencet saklar, semua
lampu di rumah nyala. Yang ada malah boros dan nggak efektif kan?
Gimana, teman. Sekarang
sudah tahu, kan, apa saja perbedaan rangkaian seri dan paralel? Baik dari segi
rumus, maupun manfaatnya.
Berikut ini video pembelajaran tentang rangkaian seri dan paralel:
Berikut ini video pembelajaran tentang rangkaian seri dan paralel:
GERAK
Gerak
Lurus – Pengertian, Rumus, & Contoh Soal Gerak Lurus Beraturan
Artikel ini membahas
materi gerak lurus beraturan, pelajaran Fisika SMK kelas
10. Sebelum memahami apa itu gerak lurus beraturan, sebaiknya kamu memahami
terlebih dahulu apa itu gerak.
Gerak – Pengantar
Gerak adalah perubahan posisi suatu objek yang
diamati dari suatu titik acuan. Titik acuan yang dimaksud didefinisikan sebagai
titik awal objek tersebut ataupun titik tempat pengamat berada.
Sebagai contoh, kamu
sedang berada didalam kereta yang sedang ber gerak lurus dengan kecepatan 80
km/jam, lalu kamu berjalan menuju bagian depan kereta dengan kecepatan 5
km/jam.
Kecepatan kamu adalah sebesar 5 km/jam jika
dilihat dari pengamat (titik acuan) yang juga berada di dalam kereta.
Akan tetapi, jika
pengamat tersebut berada berada di stasiun atau titik acuannya berada di luar
kereta, maka kamu dianggap bergerak dengan kecepatan 80 km/jam + 5 km/jam = 85
km/jam. (Perhatikan gambar dibawah)
[Sumber Gambar: Douglas C. Giancoli, 2005]
Jadi, sangatlah penting
untuk menetapkan titik acuan ketika kita sedang mengamati suatu objek yang
bergerak.
Pada saat suatu objek
bergerak, objek tersebut akan mengalami perubahan jarak serta dapat pula
mengalami perubahan posisi atau biasa disebut perpindahan. Berikut dijelaskan
lebih lanjut,
§ Jarak (distance)
merupakan panjang seluruh lintasan yang ditempuh suatu objek yang bergerak.
Jarak hanya memiliki nilai.
§ Perpindahan
(displacement) merupakan panjang lintasan lurus yang diukur dari posisi awal
dengan posisi akhir dari objek tersebut. Perpindahan memiliki nilai dan arah.
Sebagai contoh, kamu ber
gerak lurus sejauh 70 m ke Timur lalu berbalik dan berjalan kembali (ke Barat)
sejauh 30 m.
Total jarak yang kamu
tempuh adalah sebesar 100 m, akan tetapi perpindahan yang kamu lakukan hanya
sebesar 40 m karena titik akhir kamu berada sekarang hanya sejauh 40 m dari
titik awal. (Perhatikan gambar dibawah)
Dapat
disimpulkan bahwa, jarak hanya memiliki nilai sehingga merupakan besaran
skalar.
Sedangkan
perpindahan merupakan besaran yang
memiliki nilai dan arah.
Besaran
yang memiliki nilai dan arah disebut vektor dan digambarkan sebagai tanda
panah.
Pada
gambar diatas, panah berwarna biru
mewakili perpindahan sebesar 40 m dengan arah ke kanan (Timur).
Jika melihat suatu objek
yang bergerak, maka biasanya hal yang paling kita perhatikan adalah secepat apa
objek tersebut bergerak.
Terdapat dua istilah mengenai seberapa cepat
benda objek bergerak yakni kelajuan dan kecepatan.
Kelajuan (speed) adalah
perbandingan antara jarak yang ditempuh objek dengan selang waktu yang
diperlukan. Kelajuan merupakan besaran skalar (hanya memiliki nilai).
kelajuan = jarak yang ditempuh / selang waktu
Kecepatan (velocity)
adalah perbandingan antara perpindahan objek dengan selang waktu yang
diperlukan. Kecepatan merupakan besaran vektor (memiliki nilai dan arah).
kecepatan = perpindahan / selang waktu
Jika kita ambil contoh
kembali ketika kamu bergerak lurus 70 m ke Timur lalu berjalan berbalik 30 m ke
Barat, maka total jarak yang kamu tempuh adalah 70 m + 30 m = 100 m, akan
tetapi perpindahan yang kamu lakukan hanya sebesar 40 m.
Jika diasumsikan kamu berjalan selama 70
sekon, maka kita dapat mencari kelajuan dan kecepatan kamu.
Kelajuan kamu sebesar:
kelajuan = jarak yang ditempuh / selang waktu = 100 m / 70 s = 1,4 m/s
Sedangkan, kecepatan
kamu sebesar:
kecepatan = perpindahan / selang waktu = 40m / 70s = 0,57 m/s
Gerak
Lurus (GL)
Gerak Lurus termasuk
sebagai Gerak Translasi, yakni gerakan suatu objek yang bergerak tanpa
berotasi. Dinamakan GL karena lintasannya berupa garis lurus. Contohnya dapat
kita lihat pada mobil yang bergerak maju, gerakan pada buah apel yang jatuh
dari pohonnya, dan pada setiap objek yang bergerak pada lintasan lurus.
Gerak
ini dibedakan menjadi dua jenis berdasarkan ada dan tidak adanya percepatan,
yakni Gerak Lurus Beraturan (GLB) dan Gerak Lurus Berubah Beraturan (GLBB).
GERAK
LURUS BERATURAN (GLB)
Gerak Lurus Beraturan
(GLB) adalah gerak lurus yang memiliki kecepatan yang tetap karena tidak adanya
percepatan pada objek. Jadi, nilai percepatan pada objek yang mengalami GLB
adalah nol (a = 0).
Cara mencari nilai
kecepatan pada objek yang mengalami GL beraturan memakai persamaan sama seperti
yang sudah dijabarkan sebelumnya diatas. Berikut ditampilkan dalam bentuk
rumus,
V = S / t
yang artinya:
velocity= space / time
Kita sudah mengetahui
bahwa,
v = kecepatan (km/jam
atau m/s)
S = perpindahan, pada
soal-soal biasanya juga disebut sebagai jarak tempuh (km atau m)
t = selang waktu atau
waktu tempuh (jam, sekon)
Contoh
Soal Gerak Lurus Beraturan
Soal: Seorang pengendara
sepeda bersepeda selama 2,5 jam sepanjang lintasan lurus. Berapa jarak yang
ditempuh jika diketahui kecepatannya sebesar 18 km/jam?
SOLUSI:
Rumus Kecepatan
adalah v = S / t
Maka, dapat kita tuliskan
kembali menjadi: S = v x t
S = 18 x 2,5 = 45 km
Jadi, pengendara sepeda
tersebut telah menempuh jarak sejauh 45 km.
Berikut ini video pembelajaran tentang gerak:
Sumber Artikel:
Judul Artikel: Gerak
Lurus
Kontributor: Ibadurrahman, S.T.
Mahasiswa S2 Dept. Teknik Mesin UI
Kontributor: Ibadurrahman, S.T.
Mahasiswa S2 Dept. Teknik Mesin UI
